Kesehatan
Mental Pada Pelajar Dalam Proses Pembelajaran Daring
Kesehatan
sering kali digambarkan dalam segi kondisi fisik saja, mereka yang dapat
melakukan kegiatan berat, mempunyai bentuk tubuh yang ideal, yang terlihat
sangat bugar. Dapat dikatakan sebagai orang yang sehat. Sayangnya, kesehatan
tidak selalu dalam segi fisik. Nyatanya kesehatan adalah yang dimana orang
tersebut memiliki kesehatan fisik dan kesehatan jiwa atau mental yang baik.
Tapi
sangat disayangkan, persoalan mengenai kesehatan jiwa atau mental masih sangat
minim dilihat oleh berbagai kalangan. Kesehatan jiwa atau mental masih dianggap
kalah penting dengan kesehatan fisik. Padahal ditengah keadaan pandemik seperti
ini, kesehatan jiwa atau mental sangat dapat dirasakan oleh sebagian orang.
Terlebih pada pelajar yang sedang melakukan proses pembelajaran daring.
Dilansir
dari halodoc.com kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan
yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang.
Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga,
pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang. Jika kesehatan mental
tergannggu, maka timbul gangguan mental atau penyakt mental. Gangguan mental
dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan denga orang
lain, membuat pilihan, dn memicu hasrta untuk menyakiti diri sendiri. Beberapa
jenis gangguan mental yang umum diemukan, antara lain depresi, gangguan
bipolar, kecemasan gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan psikosis.
Karena
adanya pemberlakuan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring
menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa dan orang tua siswa. Adanya
kebijakan tersebut membuat siswa mengalami perubahan drastis terkait dengan
aktivitas sekolah pada umumnya. Sebelumnya aktivitas di sekolah adalah sebagai sarana
untuk belajar dan bermain bagi anak dan remaja. Kini sejak pemberlakuan
tersebut aktivitas yang dapat dilakukan di sekolah tidak dapat lagi dirasakan.
Hilangnya waktu bermain dan belajar bersama dengan teman di sekolah,
terbatasnya untuk bepergian keluar atau berkunjung ke wahana hiburan, dan
ditambah menyaksian secara langsung dampak dari Covid-19 terhadap orang tua
atau anggota keluarga (dampak fisik, ekonomi, dan psikologi). Hal tersebut
adalah pengalaaman yang sulit bagi anak-anak dan remaja. Karena anak-anak dan
remaja tidak dapat menghadapi perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Adanya
pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring seperti ini rentan bagi
anak-anak dan remaja mengalami tekanan psikologi dan gangguan kesehatan mental.
Karena pembatasan aktivitas di luar rumah yang dapat menyebabkan perasaan tidak
nyaman, tugas yang lebih banyak dari
sekolah normal sebelumnya, berita mengenai perkembangan Covid-19 yang semakin memburuk.
Hal tersebut lah yang dapat mengakibatkan pelajar terkena gangguan mental.
Penelitian
yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei China
serta melibatkan 2.330 anak sekolah membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah
yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa
tekanan emosional. Bahkan , penelitian lanjutan dari dari observasi tersebut menunjukkan bahwa
22,6% dari anak-anak atau pelajar yang diobservasi mengalami gejala depresi dan
18,9% mengalami kecemasan.
Hal
serupa terjadi di Indonesia, adanya
kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring ini berdampak
signifkan pada kesehatan mental para pelajar meskipun dengan angka yang
bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh
Satgas Penangan Covid-19 (BNPB, 2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia
merasa di rumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% ana merasa
tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya, dan 10% anak merasa khawatir
tentang kondisi ekonomi keluarga.
Keadaan
seperti ini apabila tida diatasi dengan serius, tenntunya akan berakibat fatal
yang nantinya menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Seperti hal yang sudah
terjadi pada seorang remaja siswa kelas 2 SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi
Selatan yang berinisial MI, 16 tahun. Remaja tersebut nekat mengakhiri hidupnya
dengan menenggak racun rumput (17/10/20) karena diduga mengalami depresi akibat
tekanan pembelajaran jarak jauh yang dialaminya.
Melihat
kondisi masalah kesehatan mental seperti ini, diperlukan upaya strategis dalam
mengevaluasi sistem PJJ sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi
anak-anak dan remaja yang sedang melaksanakan kegiatan atau sistem PJJ
tersebut. Agar masalah kesehatan mental yang terjadi pada anak-anak dan remaja
di Indonesia tidak meningkat pentingnya memberikan penyediaan layanan dukungan
sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental bagi para siswa. Dengan
adanya penyediaan layanan ini baik online maupun offline, harapannya masyarakat
dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan. Pemberian layanan
kesehatan mental bagi anak dan remaja juga dapat diperkuat oleh sekolah. Karena
sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran jarak jauh,
pihak sekolah selayaknya memperhatikan kondisi para siswanya tidak hanya pada
kualitas kemajuan pembelajarannya. Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah
memberikan perhatian lebih atas keamanan, kondisi kesejahteraan mental siswanya, dan hal lain terkait dengan
tantangan yang dihadapi oleh siswanya dalam proses pembelajaran di rumah.
Meskipun
sampai saat ini pandemi belum berakhir, dampak tekanan psikologi dan kesehatan
mental bagi para pelajar sangat dirasakan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari
peran keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mendampingi anak-anak dan remaja
mengahdapi berbagai perubahan dan tekanan yang ada. Oleh karena itu, hal ini
tentunya harus menjadi perhatian yang khusus dan tidak boleh diabaikan. Semua pihak
harus memaksimalkan perhatiannya agar dapat mengatasi masalah yang terjadi
dengan lebih baik lagi.