Selasa, 29 Desember 2020

 

Kesehatan Mental Pada Pelajar  Dalam Proses  Pembelajaran Daring

 

Kesehatan sering kali digambarkan dalam segi kondisi fisik saja, mereka yang dapat melakukan kegiatan berat, mempunyai bentuk tubuh yang ideal, yang terlihat sangat bugar. Dapat dikatakan sebagai orang yang sehat. Sayangnya, kesehatan tidak selalu dalam segi fisik. Nyatanya kesehatan adalah yang dimana orang tersebut memiliki kesehatan fisik dan kesehatan jiwa atau mental yang baik.

Tapi sangat disayangkan, persoalan mengenai kesehatan jiwa atau mental masih sangat minim dilihat oleh berbagai kalangan. Kesehatan jiwa atau mental masih dianggap kalah penting dengan kesehatan fisik. Padahal ditengah keadaan pandemik seperti ini, kesehatan jiwa atau mental sangat dapat dirasakan oleh sebagian orang. Terlebih pada pelajar yang sedang melakukan proses pembelajaran daring.

Dilansir dari halodoc.com kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang. Jika kesehatan mental tergannggu, maka timbul gangguan mental atau penyakt mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan denga orang lain, membuat pilihan, dn memicu hasrta untuk menyakiti diri sendiri. Beberapa jenis gangguan mental yang umum diemukan, antara lain depresi, gangguan bipolar, kecemasan gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan  obsesif kompulsif (OCD), dan psikosis.

Karena adanya pemberlakuan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa dan orang tua siswa. Adanya kebijakan tersebut membuat siswa mengalami perubahan drastis terkait dengan aktivitas sekolah pada umumnya. Sebelumnya aktivitas di sekolah adalah sebagai sarana untuk belajar dan bermain bagi anak dan remaja. Kini sejak pemberlakuan tersebut aktivitas yang dapat dilakukan di sekolah tidak dapat lagi dirasakan. Hilangnya waktu bermain dan belajar bersama dengan teman di sekolah, terbatasnya untuk bepergian keluar atau berkunjung ke wahana hiburan, dan ditambah menyaksian secara langsung dampak dari Covid-19 terhadap orang tua atau anggota keluarga (dampak fisik, ekonomi, dan psikologi). Hal tersebut adalah pengalaaman yang sulit bagi anak-anak dan remaja. Karena anak-anak dan remaja tidak dapat menghadapi perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.

Adanya pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring seperti ini rentan bagi anak-anak dan remaja mengalami tekanan psikologi dan gangguan kesehatan mental. Karena pembatasan aktivitas di luar rumah yang dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman, tugas yang lebih  banyak dari sekolah normal sebelumnya, berita mengenai perkembangan Covid-19 yang semakin memburuk. Hal tersebut lah yang dapat mengakibatkan pelajar terkena gangguan mental.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei China serta melibatkan 2.330 anak sekolah membuktikan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat Covid-19 menunjukkan beberapa tekanan emosional. Bahkan , penelitian lanjutan dari  dari observasi tersebut menunjukkan bahwa 22,6% dari anak-anak atau pelajar yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan.

Hal serupa terjadi  di Indonesia, adanya kegiatan pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran daring ini berdampak signifkan pada kesehatan mental para pelajar meskipun dengan angka yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh Satgas Penangan Covid-19 (BNPB, 2020) menunjukkan bahwa 47% anak Indonesia merasa di rumah, 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15% ana merasa tidak aman, 20% anak merindukan teman-temannya, dan 10% anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.

Keadaan seperti ini apabila tida diatasi dengan serius, tenntunya akan berakibat fatal yang nantinya menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Seperti hal yang sudah terjadi pada seorang remaja siswa kelas 2 SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang berinisial MI, 16 tahun. Remaja tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun rumput (17/10/20) karena diduga mengalami depresi akibat tekanan pembelajaran jarak jauh yang dialaminya.

Melihat kondisi masalah kesehatan mental seperti ini, diperlukan upaya strategis dalam mengevaluasi sistem PJJ sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi anak-anak dan remaja yang sedang melaksanakan kegiatan atau sistem PJJ tersebut. Agar masalah kesehatan mental yang terjadi pada anak-anak dan remaja di Indonesia tidak meningkat pentingnya memberikan penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental bagi para siswa. Dengan adanya penyediaan layanan ini baik online maupun offline, harapannya masyarakat dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan. Pemberian layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja juga dapat diperkuat oleh sekolah. Karena sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran jarak jauh, pihak sekolah selayaknya memperhatikan kondisi para siswanya tidak hanya pada kualitas kemajuan pembelajarannya. Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih atas keamanan, kondisi kesejahteraan mental  siswanya, dan hal lain terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh siswanya dalam proses pembelajaran di rumah.

Meskipun sampai saat ini pandemi belum berakhir, dampak tekanan psikologi dan kesehatan mental bagi para pelajar sangat dirasakan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari peran keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mendampingi anak-anak dan remaja mengahdapi berbagai perubahan dan tekanan yang ada. Oleh karena itu, hal ini tentunya harus menjadi perhatian yang khusus dan tidak boleh diabaikan. Semua pihak harus memaksimalkan perhatiannya agar dapat mengatasi masalah yang terjadi dengan lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Kesehatan Mental Pada Pelajar  Dalam Proses  Pembelajaran Daring   Kesehatan sering kali digambarkan dalam segi kondisi fisik saja, me...